Inilah Puisi Aktor dan Penyair Anzar Mostikawati

Ambangku Bersua

Waktu Indonesia Barat kali ini aku, di pukul 01.40. Bunyi detak jarum jam terdengar lirih, dalam naungan suasana hening yang tercipta. Waktu Indonesia barat kali ini, aku berada di satu kota dalam gemerlapan hiasan malam. Aku menari riang sambil berlari menuju cahaya. Dalam pangkuan ibu dan belaian ayah, aku mendengar sayup-sayup denting piano dan suara suling, juga terlihat patung-patung hasil tangan ayahku. Dalam pangluan ibu dan belaian ayah. Aku meneteskan air mata bahagia, aku merasa hangat dikala dinginnya malam. Dan dibatas ambang sadarku. Aku tersadar! Tersentak! Bu, yah? Dimana? Disini gelap!

Buah Batu, September 2019
Anzar Mustikowati

Trilogi Kota
1
Aku kini mengitari kota, menyelusuri jalanan palsu rel-rel kereta waktu, stasiun, terminal dan bandara yang riuh akan rindu. Lalu gemerlap cahaya dan bising menjadi sunyi, pun lorong-lorong gelap tak menemukan jalan pulang, seperti pelukmu yang melebur kenang

2
Jalan-jalan berlubang penuh luka, genangannya menyimpan duka, peluh tubuhku terciprat air lumpur. Aku kini kembali mengitari kota, di sore basah kecamannya membasuh bahagia. Tak ada pakaian hangat lagi, yang ada hanya dekap bayanganmu yang bisu

3
Di selatan kujumpai lagi jalanan penuh debu. Rintihnya menjelma puing-puing reruntuhan, pohon-pohon tumbang, daun-daun kering berserakan. Kembali lagi aku mengitari kota, gelapnya menanti kerinduan di setiap sudutnya. Dan ringkihnya kota hatiku menanti kau datang riang.

Bandung, Desember 2019
Anzar Mustikowati

Usai

1
Pada pertemuan kita
Cijagra
Malam itu
Dinding-dinding kamar
Menjadi puisi tanpa bahagia

2
Telah habis kata-kataku
Sejalan dengan habisnya pertemuan kita
Kini tidak ada lagi kopi pada petang
Semua telah bias ditelan waktu
Dan semua telah berlalu ditelan masa

Cijagra, Desember 2019
Anzar Mustikowati