Kemerdekaan, Pandemi, dan Ketahanan Pangan

Oleh ;
Ketua Komisi II DPRD Jabar
Rahmat Hidayat Djati

Tidak terasa sebentar lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesa (NKRI) yang ke-75. Sejarah telah mencatat, terlahirnya kemerdekan bangsa ini harus ditebus dengan tetesan darah para pejuang. Maka, sudah sepantasnyalah kita berterima kasih kepada para pahlawan yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekan. Sebab proses perjuangan demi kemerdekaan ini bukanlah perjalanan pendek, bahkan memakan waktu hingga 350 tahun di bawah penjajahan bangsa Belanda dan 3,5 tahun dijajah bangsa Jepang. Tidak dapat dibayangkan bagaimana penderitaan dan kesengsaraan yang dirasakan orangtua kita dulu.

Dan kita sekarang tinggal menikmati kemerdekaan di atas negara yang berdaulat. Lalu, apa yang harus kita lakukan saat ini sebagai balas jasa atas para pahlawan yang telah mempertaruhkan jiwa raganya demi meraih bangsa dan negara Indonesia yang mahardika? Harus diberi tanda kutip kata menikmati kemerdekaan seperti yang diungkapkan tadi. Saya memaknai bahwa menikmati kemerdekaan berarti harus mengisinya dengan melahirkan pejuang-pejuang baru sekaligus kita sendiri sebagai pelaku perjuangan untuk kemajuan bangsa ini agar lebih sempurna. Namun tentu saja dengan bentuk perjuangan yang relevan dengan keadaan saat ini.

Tak terkecuali Indonesia, saat ini hampir semua negara di semua belahan benua tengah dilanda musibah yang sama, yakni krisis kesehatan pandemi Covid-19 (Corona Virus Desease 2019). Diawali dari kota Wuhan China di penghujung 2019, “teror” SARS-CoV-2 alias virus corona (sebutan umum), dalam kurun waktu kurang dari setahun dengan cepat merebak hampir ke seluruh dunia. Jutaan korban meninggal dunia maupun menderita akibat Covid-19 berjatuhan di berbagai negara, baik Asia, Amerika, Eropa, Afrika, sampai Timur Tengah.

Dunia benar-benar dibuat menderita akibat ulah mahluk berjasad renik ini. Bukan hanya krisis kesehatan, serangan SARS-CoV-2 juga telah melumpuhkan sektor vital lainnya, terutama ekonomi. Tak terkecuali negara adidaya, Amerika Serikat, semua negara kini mulai merasakan gejala krisis ekonomi, yang merupakan momok bagi seluruh negara di muka bumi ini. Pun Indonesia, tak lepas dari bayang-bayang mimpi buruk itu karena dampaknya begitu lekat dengan kemiskinan, kebangkrutan, pengangguran, dan yang lebih mengerikan lagi adalah kelaparan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar bangsa kita tetap ajeg di tengah goncangan pandemi ini? Agar Negara kita tetap tegar menghadapi teror flu ganas yang bisa menular di setiap tempat ini? Tiga perempat abad masa kemerdekan NKRI haruslah menjadi suntikan penyemangat bagi semua komponen bangsa untuk sama-sama berjuang melawan teror Covid-19. Para pahlawan bangsa di masa pra kemerdekaan berjuang melawan penjajah dengan penyatuan kekuatan spiritnya, dengan taktik cerdik serangan gerilyanya, juga dengan ketajaman bambu runcingnya. Dan SARS-CoV-2 adalah musuh nyata yang ada di sekitar kita saat ini, bahkan lebih menakutkan dari musuh penjajah bersenjata di masa perjuangan dulu. Tentu saja demikian, karena serangan virus corona tidak terdeteksi oleh panca indera, tak terlihat, tak tercium, tak terdengar, tak berasa, dan tak berbau. Semua umat mansuia di dunia dapat dipastikan dibuat gentar oleh mahluk renik ini. Maka, dibutuhkan model perjuangan yang tepat di semua lini untuk melawannya. Bukan hanya pejuang medis, pejuang-pejuang lainpun harus bangkit bersama melawan Covid-19 dengan “senjata”-nya masing-masing. Ide, ilmu, kreativitas, tenaga, sampai ranah spiritual seyogianya dikerahkan secara total agar SARS-CoV-2 segera lenyap dari muka bumi.

Ketika industri, tenaga kerja, dan semua lini melemah akibat pandemi ini, ketahanan pangan adalah sektor yang paling mutlak harus diperjuangkan. Dengan demikian, Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat harus lebih fokus untuk memperkuat sektor pangan sebagai penopang ketahanan pangan nasional. Saya bersama jajaran Komisi II DPRD Jabar telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk penguatan sektor pangan dan pertanian. Pertama, Pemdaprov Jawa Barat harus mengadakan kerjasama dengan berbagai komponen masyarakat baik pengusaha, lembaga perguruan tinggi, organisasi sosial, organisasi profesi, tokoh agama guna meningkatkan daya saing dan kepercayaan diri para petani. Meski belakangan ini Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai dilonggarkan, di mana mobilitas masyarakat tidak lagi terlalu dibatasi, tetapi akses masyarakat terhadap pangan masih harus terus ditingkatkan melalui berbagai sarana interaksi jual beli. Selain pasar konvensional, market place atau pasar online khusunya yang melayani penjualan ragam komoditas pertanian merupakan gagasan cerdas yang harus terus dikembangkan. Lebih bagus lagi jika Badan-badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan koperasi yang bergerak langsung di level perdesaan juga mengembangkan penualan komoditas pertanian melalui pasar online. Dengan cara tersebut, banyak hal positif yang akan diperoleh, di antaranya memicu produktivitas petani, disparitas harga yang tidak terlalu tinggi dari petani ke tangan konsumen. Dan yang tak kalah pentingnya adalah memperpendek rantai interaksi antar manusia serta terhindarnya penjual maupun pembeli dari kerumunan-seperti halnya pasar konvensional-sebagai media paling riskan penularan Covid-19.

Kedua, perlu adanya perluasan infrastruktur pertanian, mempermudah akses terhadap usaha menengah serta meningkatkan daya saing produk pangan dengan cara meningkatkan kesejahteraan para petani. Ketiga, Pemdaprov Jawa Barat harus mengoptimalkan implementasi rencana aksi penguatan pangan nasional dengan penguatan koordinasi antar SKPD dalam menangani permasalahan gizi masyarakat. Keempat, Pemdaprov Jawa Barat harus lebih mengoptimalkan pelaksanaan Perda Nomor 27 Tahun 2010 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Kelima, jangan memberikan izin usaha non pertanian untuk membangun perusahaan di wilayah pertanian produktif. Meski berdirinya perusahaan akan berbanding lurus dengan kebutuhan tenaga kerja, tetapi jika mengancam produktivitas pertanian justru akan berdampak buruk terhadap ketahanan pangan dalam jangka panjang.

Terutama untuk generasi muda atau kaum milenial yang telah menunjukkan minatnya menggeluti sector pangan atau pertanian, jangan sampai diabaikan oleh semua pihak, apalagi oleh pemerintah. Sebab, mewujudkan minat di sector tersebut merupakan salah satu bentuk perjuangan yang nyata guna menopang keberlangsungan hidup bangsa ini. Bahkan pemerintah daerah wajib memfasilitasi pemasaran produk hasil tani serta program petani milenial dengan pendampingan sampai berhasil.

HUT-RI ke-75 diharapkan menjadi pemicu semangat dalam memperjuangkan ketahanan pangan, khusunya di tatar Jawa Barat, agar prediksi organisasi pangan dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) soal ancaman kelangkaan pangan di masa pandemi COVID-19, sedikitnya bisa diminimalisasi. Patut disyukuri, pulau Jawa khusunya Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi pangan di Indonesia. Bahkan hingga saat ini Jawa Barat masih tercatat sebagi lumbung padi nasional. Selaras dengan analisa Dian Wahyu Utami, Peneliti di Pusat Peneitian Kependudukan LIPI, bahwa masalah yang mendera sektor pangan tersebut lebih besar pada rantai distribusi akibat diberlakukannya pembatasan sosial, terutama pada masa-masa awal penyebaran virus corona beberapa bulan lalu.

Saya sebagai wakil rakyat pada lembaga legislatiff di level provinsi juga mendorong masyarakat terutama kaum milenial di perdesaan untuk mengarahkan minatnya pada sektorr pertanian. 5.312 desa ditambah 645 kelurahan yang tersebar di 27 kabupaten/kota, merupakan potensi yang sangat luar biasa dalam membangun penguatan ketahanan pangan, yang ditunjang dengan kesuburan tanah serda keunggulan Sumber Daya Manusianya. Atas anugerah dari Alloh SWT yang sangat luar biasa itu, jangan sampai kita sebagai warga Jawa Barat terkena terperosok ke dalam ironi, bagai ayam mati di lumbung padi, meskipun wabah Covid-19 belum menunjukkan akan segera mereda. Justru sebaliknya, dengan semangat perjuangan bangsa, pandemii harus menjadi pemicu untuk melahirkan gagasan-gagasan brilian dalam mempertahankan keberlangsungan hidup. Itulah esensi dari kemerdekaan. (*)

Penulis:
Rahmat Hidayat Djati
Ketua Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat
Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)